Dengan tangisan pertamaku didunia, aku menyambut ibu, dan aku menyambutmu...Ayah.
Ini aku, aku telah ada!, tetapi kenapa Ayah yang tak pernah ada? Jika Ayahlah alasanku ada di dunia, lalu apa alasan Ayah setelah aku ada Ayah justru meninggalkanku?.Haruskah aku membencimu? Tetapi aku tak ingin berdosa, Haruskah aku melupakan semua kenangan pahit tentangmu?Tetapi sungguh aku tak kuasa.
Ini aku ayah,aku sudah mengenal sakit hati diusiaku yang masih sangat muda,dimana aku masih membutuhkan kasih sayang-Mu dan juga Ibu ,aku masih ingin bermain dengan riang bersama teman-temanku,aku yang masih belum mengerti apa-apa namun karena Ayahlah Diusiaku yang masih sangat dini, aku harus memikul beban yang tidak seharusnya aku menanggung derita secepat ini.
Apa salahku? Kenapa Ayah membuat ibu yang melahirkanku terluka dan membuat aku tersiksa? Tidakkah sedikitpun Ayah bahagia karena aku telah ada? Aku sangat menyayangimu ayah, tetapi lagi dan lagi hati kecilku bertanya kenapa? Kenapa Ayah menyakiti ibu dan aku? Sampai kini pertanyaan itu yang selalu menghalangiku untuk tidak membenci Ayah. Adakah kalimat yang terdengar lebih baik dari membenci untuk mengungkapkan kekecewaanku padamu?Tidak ayah, aku pun tidak ingin membencimu. Aku selalu mendoakanmu, aku selalu menyayangimu, meski ingatan buruk tentangmu masih selalu membayangi hidupku.
Ibu mencintaimu sepenuhnya, ibu menerimamu apa adanya, tetapi Ayah, Ayah begitu kejam melukainya. Ini bukan lagi soal pacaran yang bisa putus begitu saja, ini tentang sebuah pernikahan, dan aku pun telah menjadi buah cinta kalian. Tetapi begitu mudahnya Ayah menghancurkan segalanya.Bukan Hanya perasaan Ibu, tetapi inipun bertentangan dengan kehidupanku baik sekarang ataupun kelak.
Ini aku Ayah,aku sudah banyak mengerti tentangmu!. Aku bukan lagi gadis kecilmu yang bisa kau bohongi setiap kali aku bertanya tentangmu. Setiap kali aku merindukanmu kau hanya mengatakan kau sibuk dengan pekerjaanmu, Setiap kali aku menanyaimu tentang keseharianmu diluar sana, tetapi lagi dan lagi kau hanya mengatakan hal yang sama kau sibuk dengan pekerjaanmu,Sesekali aku berfikir apa sepenting itu pekerjaan Ayah? Namun, Saat ini Aku sudah terbiasa dengan kebohongan-kebohongan Ayah dan aku tidak akan bertanya lagi tentangmu,percuma saja semua tidak akan berubah, Ayah akan tetap berbohong untuk menutupi kebohongan Ayah yang lain.
inikah arti anak bagimu? kehancuran cintamu pada ibu berakibat hancurnya juga kehidupan anakmu ayah, dan seharusnya Ayah tahu itu.
Ini aku Ayah,aku sudah dewasa! Entah keburukan apalagi yang akan Ayah lakukan padaku dan Ibu. Tetapi Ayah harus tahu, aku tidak akan membiarkan Ibuku meneteskan air mata lagi karena Ayah,sekarang aku sudah bisa Menahan Ayah jika Ayah mencoba menyakiti Ibu. sudah cukup Ayah membuat kami menderita selama ini. Ini bukan dendamku terhadap Ayah,tapi aku hanya akan membuktikan bahwa aku bisa hidup dan sukses tanpa Ayah. Kasih sayang Ibu sudah cukup untuk menyemangatiku, Selagi Ibu masih bersamaku aku tidak akan mengemis belaskasihan pada Ayah lagi.
Bukankah karena cinta Ayah menikahi wanita yang kusebut ibu? Menghiasi jarinya dengan cincin, mengikatnya dengan kalimat janjimu pada Tuhan, lalu bagaimana bisa Ayah menghianatinya? Bukan hanya menghianati cintamu kepada ibu, tetapi mengingkari janjimu pada Tuhan.Ayah seharusnya tahu, ini bukan hanya tentang nafsu dan egomu, ini pertanggung jawabanmu kelak pada Tuhan tentang anak dan istrimu, apa yang akan Ayah ucap kelak pada Tuhan? Ayah telah menyakiti ibu, dan melukai anakmu.
Nafsu dan egois Ayah lebih besar daripada rasa Takut Ayah pada Tuhan.
